Monday, September 23, 2013

menuju 2821 mdpl



setiap puncak itu selalu punya cerita sendiri temaan
dan inilah ceritaku ke 2821 mdpl
 
Keputusannya diambil secara cepat, lumayan ngDadak dan kilat
Yup, itu yang terjadi ketika kita memutuskan untuk naik ke gunung Cikuray. Sebelumnya aku udah dapat warning dari mbak ku sayang kalo ke sana kudu ati-ati, malah dia gak nyaranin aku buat ke sana, katanya disana jalurnya terjal, banyak akar-akar pohon yang melintang, gak ada sumber mata air. Hmm, sempet kecut juga sih kalo di ingat-ingat, apalagi ditambah-tambahi cerita horornya.
Pada awalnya kita udah ngerencanain tanggal 21 agustus 2013 tuh buat naik, sampai-sampai temen ku yang lagi di bandung belai-belain pulang buat naik gunung, temenku beli sandal gunung yang ternyata ehh gak jadi. Terus pas maghrib-maghrib dapat sms dari teh ike, kita semua disuruh ke rumahnya buat ngomongin naik gunung, dan abis maghrib itu berangkatlah kita ke rumah teh ike,
Dan di sana kita pun di tanyain jadi mau gunung gak?? Kita sih ayo ayo aja, walaupun sebenarnya bapaknya juga radak ser-ser an karena kita mintanya naik malam. Kita emang pengen ngeliat sunrise dari puncak gunung. Dan tanpa banyak omong lagi kita pun mengiyakan hohohoo. Kita pamit dulu ke teteh dan si bapak buat balik, kita mau siap-siap dulu. Dan kita pun bagi tugas buat nyiapin segalanya, ada yang nyari senter (sambil minta doa) ,ada yang nyiapin perbekalan di rumah dan ada pula yang turun ke bawah buat beli yang lainnya.
Dan dengan berbekal 4 ransel serta 2 tas kecil kita berenam pun plus pak yunu pun berangkat. Sebelumnya kita istirahat di tempat teh ike, hmm aku gak bisa memejamkan mata. Sebenarnya waktu itu aku ragu naik apa gak, entah kenapa kepala ku tiba-tiba pening, buat jalan ke rumah teh ike aja udah mau ambruk aja. Tapi, demi melihat sunrise aku pun menyakinkan diriku sendiri kalo aku pasti bisa naik ke puncak sana. Gulang-guling di sofa yang empuk itu pun gak mendukungku buat melayang ke alam mimpi walaupun Cuma bentar. Oke fine, akhirnya kita pun berangkat jam 22.30 yang awalnya kita berencana buat berangkat jam 22.00.
Mengawali perjalanan kita dengan doa agar Allah selalu melindungi kita semua dalam perjalanan. Dan bismillah, kita pun berangkat. Formasi pun di bentuk #eaa .
Yang jelas paling depan itu pak yunu, kasian pak yunu gak ada temen ngobrol ,tadi sih udah nyari tapi orang-orang pada gak mao, oh ya, pak yunu ini penunjuk jalan kita, secara gak ada yang pernah ke cikuray, dan kita pun gak lewat jalur resmi yang ada dibalik gunung sana, kita lewat jalur warga :D. Di belakangnya ada Geri, anggi, yoga, aku, adit dan dimas. Hmm, kalo dipikir-pikir dan berimajinasi sedikit tinggi kita (tanpa pak yunu) jadi kayak yang di 5cm. Geri diibaratkan ian karena tubuhnya yang paling gembul, anggi karena namanya anggriani, jadi dia milih jadi riani, dimas karena yang paling Cool (katanya) berperan sebagai Zafran, si adit yang keliatannya paling bijak dia sebagai genta, si yoga jadi bang ial dan aku jadi arinda 
Resmi jam 22.30 kita angkat kaki dari rumahnya pak yunu. Awal perjalanan aja udah mendaki, maklum topografi desa pamalayan ini emang gitu, miring. Jadi kita pemanasan tuh :p. Udah ninggalin perumahan penduduk, kita melewati kebun-kebun yang ada di kaki gunung ini. Kebun-kebun warga yang ditanamai kentang, kubis, cabe,jagung,tomat, kopi dan lain-lainnya. Melewati kebun, merasakan angin yang berhembus menyejuuuuukkan banget. For a second #tsaaah kita berhenti, bukan buat istirahat tapi buat menyaksikan keindahan lukisanNya yang indah dan hanya diterangi terangnya bulan purnama. Subhanallah, Allah jajaran terasering di sepanjang mata memandang berooh, lalu aku mikir ‘gimana dulu itu itu buka lahan dan bikin teraseringnya? Bikin terasering sekotak aja udah ngos-ngosan’
Dan perjalanan pun berlanjut, masih tetap melewati kebun-kebun warga. Hmm, heran ya, ada gitu yang mau nanem sampe sejauh ini *perut woi* .
Kita udah mulai masuk ke lahan yang berpasir, setelah 1,5 jam jalan, kita break. Sambil duduk tepi bedengan kebun warga, kami menyaksikan keindahan itu lagi. Keindahan lampu-lampu yang menghiasi Swiss van Java ini, dan juga gemerlapnya bintang dan awan yang menggantung manja di atas kita. Angin malam yang setia menemani juga ikut membelaiku dan membawaku melewati dimensi lain.
Dan kita meninggalkan kebun warga, jalan berpasir itu masih ada, Cuma vegetasinya aja yang berubah. Tidak lagi kentang ataupun wortel, tapi udah dengan semacam mimosa yang gedheee banget. Udah mulai juga merambah hutan-hutan, pohon yang tinggi udah mulai menyambut kita. Dan gunung cikuray terlihat semakin angkuhnya, ketika kita melewati tanjakan-tanjakan terjal beralaskan akar-akar pohon yang menonjol ke permukaan tanah. Jalan setapak yang kami lewati hanya muat buat satu orang ajah.
Aku melihat ke atas (hal yang sebenarnya gak boleh dilakukan) , hwaa kok rasanya puncak itu masih jauh banget, dan aku mulai ragu. Hiks hiks, tapi tentu aku gak ngomong ke yang lain, Cuma aku dan Allah yanng tahu apa yang aku pikirkan.
Dan perjalanan kamipun mengalami hambatan. Salah satu teman kami, sebut aja ian, dia mengalami kram. Gak tau kenapa, padahal dia udah rajin buat berolahraga sebelum naik gunung ini. Dan karenanya kami pun harus menurunkan kecepatan kita.kasian syekali melihatnya merintih kesakitan. Tapi aku juga bingung kudu berbuat apa. Cuma bisa menatapnya sambil berdoa buatnya. Terkadang buat menghibur kita biar gak kosong pikirannya, ketua romobongan kita mengatakan bahwa kita di atas awan. Dan emang benar, awan itu jauh di belakang kita, hmm rasanya pengen naik awan itu, tapi kita tidak tahu kalo awan di atas sana lebih dari indah. selain awan yang mengiringi perjalanan kita, suara angin yang menerpa pohon-pohon juga semakin takjub. Suaranya seperti suara ombak, hua serasa di dua tempat dalam satu waktu lho....
Jalur yang kami lewatipun semakin menantang. Akar yang melintang kemana-mana, belum lagi duri-duri yang siap merobek baju, dan jalur yang terjal. Lubang-lubang kecil pun ikut merencanakan penjebakan buat kita. Kami gak mendaki ini namanya, tapi memanjat gunung, begitulah celetuk bang ial :p
Sebenarnya dari awal udah diceritain mbak ku tentang jalur di gunung cikuray ini. Tapi alhamdulillah, masih bisa melaluinya. Pak yunu, pemandu kami, memaksa kami untuk gak banyak beristirahat,karena jalan ke puncak masih jauh banget. Tapi kami kan gak bisa meninggalkan temankami yang sedang cidera bapaaak. Dan untuk itu leader kami mengambil alih, di pindah posisi dari belakang, ke belakang si ian. Dia benar-benar memaksa ian buat jalan, gak boleh nuruti rasa sakitnya itu. Selain mendorong ian yang tetap aja merintih, dia juga menarik si riani yang ada dibelakangnya. Keren kalii leaderku ini, sabar banget. Aku yang cewek aja mungkin gak sesabar dia.


********
tunggu cerita selanjutnya :)