setiap puncak itu selalu punya cerita sendiri temaan
dan inilah ceritaku ke 2821 mdpl
Keputusannya diambil secara cepat, lumayan ngDadak dan kilat
Yup, itu yang terjadi ketika kita
memutuskan untuk naik ke gunung Cikuray. Sebelumnya aku udah dapat warning dari
mbak ku sayang kalo ke sana kudu ati-ati, malah dia gak nyaranin aku buat ke sana,
katanya disana jalurnya terjal, banyak akar-akar pohon yang melintang, gak ada
sumber mata air. Hmm, sempet kecut juga sih kalo di ingat-ingat, apalagi
ditambah-tambahi cerita horornya.
Pada awalnya kita udah
ngerencanain tanggal 21 agustus 2013 tuh buat naik, sampai-sampai temen ku
yang lagi di bandung belai-belain pulang buat naik gunung, temenku beli sandal
gunung yang ternyata ehh gak jadi. Terus pas maghrib-maghrib dapat sms dari teh
ike, kita semua disuruh ke rumahnya buat ngomongin naik gunung, dan abis maghrib
itu berangkatlah kita ke rumah teh ike,
Dan di sana kita pun di tanyain
jadi mau gunung gak?? Kita sih ayo ayo aja, walaupun sebenarnya bapaknya juga
radak ser-ser an karena kita mintanya naik malam. Kita emang pengen ngeliat
sunrise dari puncak gunung. Dan tanpa banyak omong lagi kita pun mengiyakan
hohohoo. Kita pamit dulu ke teteh dan si bapak buat balik, kita mau siap-siap
dulu. Dan kita pun bagi tugas buat nyiapin segalanya, ada yang nyari senter
(sambil minta doa) ,ada yang nyiapin perbekalan di rumah dan ada pula yang
turun ke bawah buat beli yang lainnya.
Dan dengan berbekal 4 ransel
serta 2 tas kecil kita berenam pun plus pak yunu pun berangkat. Sebelumnya
kita istirahat di tempat teh ike, hmm aku gak bisa memejamkan mata. Sebenarnya
waktu itu aku ragu naik apa gak, entah kenapa kepala ku tiba-tiba pening, buat
jalan ke rumah teh ike aja udah mau ambruk aja. Tapi, demi melihat sunrise aku
pun menyakinkan diriku sendiri kalo aku pasti bisa naik ke puncak sana. Gulang-guling
di sofa yang empuk itu pun gak mendukungku buat melayang ke alam mimpi walaupun
Cuma bentar. Oke fine, akhirnya kita pun berangkat jam 22.30 yang awalnya kita
berencana buat berangkat jam 22.00.
Mengawali perjalanan kita dengan
doa agar Allah selalu melindungi kita semua dalam perjalanan. Dan bismillah,
kita pun berangkat. Formasi pun di bentuk #eaa .
Yang jelas paling depan itu pak
yunu, kasian pak yunu gak ada temen ngobrol ,tadi sih udah nyari tapi
orang-orang pada gak mao, oh ya, pak yunu ini penunjuk jalan kita, secara gak
ada yang pernah ke cikuray, dan kita pun gak lewat jalur resmi yang ada
dibalik gunung sana, kita lewat jalur warga :D. Di belakangnya ada Geri, anggi,
yoga, aku, adit dan dimas. Hmm, kalo dipikir-pikir dan berimajinasi sedikit
tinggi kita (tanpa pak yunu) jadi kayak yang di 5cm. Geri diibaratkan ian
karena tubuhnya yang paling gembul, anggi karena namanya anggriani, jadi dia
milih jadi riani, dimas karena yang paling Cool (katanya) berperan sebagai
Zafran, si adit yang keliatannya paling bijak dia sebagai genta, si yoga jadi
bang ial dan aku jadi arinda
Resmi jam 22.30 kita angkat kaki
dari rumahnya pak yunu. Awal perjalanan aja udah mendaki, maklum topografi desa
pamalayan ini emang gitu, miring. Jadi kita pemanasan tuh :p. Udah ninggalin perumahan
penduduk, kita melewati kebun-kebun yang ada di kaki gunung ini. Kebun-kebun
warga yang ditanamai kentang, kubis, cabe,jagung,tomat, kopi dan lain-lainnya.
Melewati kebun, merasakan angin yang berhembus menyejuuuuukkan banget. For a
second #tsaaah kita berhenti, bukan buat istirahat tapi buat menyaksikan
keindahan lukisanNya yang indah dan hanya diterangi terangnya bulan purnama.
Subhanallah, Allah jajaran terasering di sepanjang mata memandang berooh, lalu aku mikir ‘gimana
dulu itu itu buka lahan dan bikin teraseringnya? Bikin terasering sekotak aja
udah ngos-ngosan’
Dan perjalanan pun berlanjut,
masih tetap melewati kebun-kebun warga. Hmm, heran ya, ada gitu yang mau nanem
sampe sejauh ini *perut woi* .
Kita udah mulai masuk ke lahan
yang berpasir, setelah 1,5 jam jalan, kita break. Sambil duduk tepi bedengan
kebun warga, kami menyaksikan keindahan itu lagi. Keindahan lampu-lampu yang
menghiasi Swiss van Java ini, dan
juga gemerlapnya bintang dan awan yang menggantung manja di atas kita. Angin malam
yang setia menemani juga ikut membelaiku dan membawaku melewati dimensi lain.
Dan kita meninggalkan kebun
warga, jalan berpasir itu masih ada, Cuma vegetasinya aja yang berubah. Tidak
lagi kentang ataupun wortel, tapi udah dengan semacam mimosa yang gedheee
banget. Udah mulai juga merambah hutan-hutan, pohon yang tinggi udah mulai
menyambut kita. Dan gunung cikuray terlihat semakin angkuhnya, ketika kita
melewati tanjakan-tanjakan terjal beralaskan akar-akar pohon yang menonjol ke
permukaan tanah. Jalan setapak yang kami lewati hanya muat buat satu orang
ajah.
Aku melihat ke atas (hal yang
sebenarnya gak boleh dilakukan) , hwaa kok rasanya puncak itu masih jauh
banget, dan aku mulai ragu. Hiks hiks, tapi tentu aku gak ngomong ke yang lain,
Cuma aku dan Allah yanng tahu apa yang aku pikirkan.
Dan perjalanan kamipun mengalami
hambatan. Salah satu teman kami, sebut aja ian, dia mengalami kram. Gak tau
kenapa, padahal dia udah rajin buat berolahraga sebelum naik gunung ini. Dan
karenanya kami pun harus menurunkan kecepatan kita.kasian syekali melihatnya
merintih kesakitan. Tapi aku juga bingung kudu berbuat apa. Cuma bisa
menatapnya sambil berdoa buatnya. Terkadang buat menghibur kita biar gak kosong
pikirannya, ketua romobongan kita mengatakan bahwa kita di atas awan. Dan emang
benar, awan itu jauh di belakang kita, hmm rasanya pengen naik awan itu, tapi
kita tidak tahu kalo awan di atas sana lebih dari indah. selain awan yang
mengiringi perjalanan kita, suara angin yang menerpa pohon-pohon juga semakin
takjub. Suaranya seperti suara ombak, hua serasa di dua tempat dalam satu waktu
lho....
Jalur yang kami lewatipun semakin
menantang. Akar yang melintang kemana-mana, belum lagi duri-duri yang siap
merobek baju, dan jalur yang terjal. Lubang-lubang kecil pun ikut merencanakan
penjebakan buat kita. Kami gak mendaki ini namanya, tapi memanjat gunung,
begitulah celetuk bang ial :p
Sebenarnya dari awal udah
diceritain mbak ku tentang jalur di gunung cikuray ini. Tapi alhamdulillah,
masih bisa melaluinya. Pak yunu, pemandu kami, memaksa kami untuk gak banyak
beristirahat,karena jalan ke puncak masih jauh banget. Tapi kami kan gak bisa
meninggalkan temankami yang sedang cidera bapaaak. Dan untuk itu leader kami
mengambil alih, di pindah posisi dari belakang, ke belakang si ian. Dia
benar-benar memaksa ian buat jalan, gak boleh nuruti rasa sakitnya itu. Selain
mendorong ian yang tetap aja merintih, dia juga menarik si riani yang ada
dibelakangnya. Keren kalii leaderku ini, sabar banget. Aku yang cewek aja
mungkin gak sesabar dia.
********
tunggu cerita selanjutnya :)