****
dan perjalanan pun berlanjut
Alhamdulillah, menemukan plang
yang menunjukkan perjalanan kita 450 meter lagi menuju puncak, ya Rabbi,
rasanya pengen segera di atas sana. Tapi perjalanan 450 meter itu gak semudah
dan segampang yang dibayangkan. Penuh halang rintang. Dan kita menemukan plang
lagi yang menunjukkan 300 meter lagi menuju puncak. Dan si ian pengen di depan,dia pengen (seolah-olah)
membawa kita ke puncak
dan pak Yunu pun mempersilahkan dengan senang.
Tapi ternyata perjalanan 300
meter itu pun gak semudah yang dibayangkan, masih diiringi rintihan dari ian,
tapi kita yang dibelakang tetap menyemangatinya. Jalurnya lebih ‘memanjat’ dari
sebelumnya. Jujur aja, aku udah merasakan capek yang sangat, kakinya rasanya
pengen di selonjorin, sambil tiduran. Aku udah berencana, sesampainya di atas
sana, mau tidur. Bangun siangnya aja hahaa.
Tapi semua yang kurencanakan
ternyata gagal total. Aku terlalu terpesona dan terlalu senang ketika berada di
atas sana. Tertawa liat si ian yang nangis tersedu-sedu dan larut dalam
sujudnya karena udah nyampe puncak gunung for first time. Kita jalan dikit ke
point yang lebih kece buat menikmati lukisan alam ini. Di sana ada bangunan
kotak yang katanya dulu dipake sebagai stasiun pemancar, tapi dicolongin orang
alat-alatnya -_- . abis liat sekilas
cikuray yang masih gelap dan anginnya yang luar biasa kenceg, aku bertayamum
buat shalat subuh. Bersama yang lain, shalat subuh ditunaikan, nikmaaat sekali
shalat di puncak sana. Setelah shalat kita bersiap menyambut datangnya mentari.
Heu, karena angin yang kenceng, bikin udara makin dingin, mata pun jadi kurang
bebas bergerak, karena banyaknya debu yang berterbangan.
Mataharipun dengan anggunnya
mulai merayap naik, menemui sang langit yang telah semalaman menantinya. Dan
juga kita yang juga tak sabar melihat mentari menemui kita.tetapi dengan
setianya Lautan awan menemani kita yang terdiam dalam penantian.
Lamaa kali kami menunggunya,
anginpun sepertinya mengusir kita dari tempat penantian kita. Kenceeeng banget
anginnya, whuuuusss
Debu-debunya masuk menyerang
kita, dan kita pun terpukul mundur dari sana. Sambil menunggu matahari
benar-benar bersinar, kita makan dulu. Perut yang krucuk-krucuk dan juga tangan
yang mengkerut saking dinginnya. Makan bekal lontong dan juga perkedel ala
Pamalayan, subhanallah nikmatnya. Tapi gak semua menikmati makananmu itu, ada
yang tidur dan menggigil kedinginan.
Karena aku udah selesai makan,
akupun bersama seorang teman pergi ke tempat penantian tadi. Udara sedikit
lebih hangat daripada yang tadi. Dan kali ini, aku lebih terpukau. Angin yang
tadinya udah berhembus, udah berkurang kecepatannya. Takjub dan terpana melihat
mentari yang indah, sang surya itu seolah bangga karena dia telah menguasai
langit sampai dia sampai kembali ke peraduannya. Selain itu, negeri awan seolah
mengajakku juga buat mampir ke kerajaan mereka. Dan tau kah kalian, di pucak
sini, puncak gunung cikuray, kalian akan benar-benar di atas awan. Awan itu
berarak mengikutimu *nyanyii guweeeh* dan kalian akan melihat puncak yang lain
serta rangkaian puncak yang berantai dari mengelilingi Swiss Van Java ini.
| selamat pagi Indonesiaaaaaaa |
Dari puncak sini, Pak yunu
menunjukkanku jalan Desa Pamalayan *ahh, apa kabar kah desa itu sekarang?* di
sana terangkai juga kebun-kebun petani, rumah-rumah penduduk yang tampak kecil
sekali, apalagi yang menghuninya?? Maha Besar Engkau Ya Allah, hanya itu yang
terucap dari mulut, rasa syukur yang masih bisa menikmati lukisanMu, menikmati
secuil keindahan ciptaanMu, menikmati akan betapa kecilnya diri ini.
No comments:
Post a Comment