Sunday, June 23, 2013

ketika harga BBM (selalu) naik



Recently,sedang berkecamuk konflik yang sebenarnya sudah menjadi tradisi. Konflik itu timbulnya pro dan kontra atas kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Isu yang sebenarnya sudah terjadi dari beberapa bulan yang lalu, isu tersebut sudah seperti bubuk mesiu yang diberi sedikit percikan api, yang akan menjalar dengan cepat kemana-mana bahkan juga merembet kemana-mana. Pihak yang pro berpendapat bahwa jika subsidi dicabut sebagaian maka akan meringankan beban APBN negara yang mungkin sumber APBN tersebut dari menggali lubang hutang di tempat-tempat sumber uang. Sedangkan yang kontra berpendapat bahwa subsidi menjadi beban APBN negara merupakan omong kosong belaka. Melihat belanja pegawai pemerintah apalagi anggota perlente yang memang di rasional rakyat jelata ini gak nyata banget. Selain itu profesi lain orang-orang perlente yang biasa kita panggilnya koruptor. Ulalaaa hal itu menjadi penyakit yang ibaratnya gak ada obatnya buat mereka semua. Berawal dari tuntutan hidup mewah yang menjadi keharusan bin kewajiban mereka, korupsi pun oke aja dah asal bisa memenuhi nafsu mereka buat huru hara.
Pihak yang pro berpositif thinking bahwa dana subsidi itu dialihkan menjadi dana ‘keadilan sosial’ bagi rakyat yang mengisi negara ini. Dana itu bukan untuk hal-hal lain yang bukan untuk penggunaannya. Dana tersebut besar harapannya untuk menambahkan subsidi bagi pendidikan anak Indonesia yang kelak akan menjadi pengganti pembuat kebijakan kali ini. Dana tersebut akan digunakan untuk membantu biaya berobat bagi mereka yang kesulitan untuk sekedar beli obat cap warung depan rumah. Untuk para petani yang telah mengisi perut  kita dari ujung Sabang sampai ke Merauke, dari umur kita masih 0 tahun sampai sekarang ini. Hal itu tentu akan lebih bermanfaat ketimbang memberikan subsidi BBM yang notabenenya pemilik kendaraan cap luar negeri, yang pasti penghasilan mereka lebih dari untuk sekedar makan tiga kali sehari.
Pihak yang kontra tidak percaya dengan janji-janji pemerintah yang ibaratnya seperti jualan kacang goreng. Hanya berlalu saja. Pemerintah tidak banyak pembuktiannya. Padahal BBM telah berkali-kali dan berlipat-lipat naik harganya sejak jaman dahulu. Buktinya dana-dana yang dijanjikan untuk hal lain hanya berlalu dengan elegannya. Pemerintah menaikkan harga BBM otomatis menaikkan tingkat kesengsaraan rakyat kecil. Oke aja buat mereka yang punya pohon duit, lha yang gak punya ini?. Kenaikan harga BBM ini tentu akan berakibat melambungnya harga-harga yang lain baik pangan maupun tingkat industri karena BBM merupakan salah satu input produksi yang memakan biaya besar. Apalagi jika kenaikannya disaat-saat ini, maka biaya anak-anak masuk sekolah, puasa dan lebaran pun mendekat yang otomatis akan lebih tinggi lagi naiknya. Tanpa kenaikan BBM pun, pada momen-momen ini harga serasa diujung menara Eifel yang susah dijangkau. Apalagi dengan bantuan langsung tunai yang entah apa nama barunya sekarang, yang banyak tidak tepat sasaran dan justru akan membuat masyarakat semakin malas.
Well, kalaupun hal itu benar-benar terjadi(dan udah terjadi) tugas yang amat penting sekarang adalah mengawasi kemanakah uang subsidi yang seharusnya untuk BBM. Agar kesalahan-kesalahan yang telah lalu tidak terulang kembali. Agar subsidi itu benar-benar untuk mereka yang benar-benar amat membutuhkan, tidak semua orang hidup seperti anda wahai bapak-bapak yang duduk di parlemen. Mungkin jika anda lihat dibelakang rumah anda mungkin mereka makan sehari sekali aja udah ih wow banget. Semoga keputusan-keputusan yang diambil sebelumnya mengucap Bismillah dahulu yang diiringi dengan niat demi kepentingan rakyat banyak, demi perut dan kehidupan yang menjanjikan.
Jayalah Negeriku Jayalah

No comments:

Post a Comment