Recently,sedang berkecamuk konflik yang sebenarnya
sudah menjadi tradisi. Konflik itu timbulnya pro dan kontra atas kenaikan Bahan
Bakar Minyak (BBM). Isu yang sebenarnya sudah terjadi dari beberapa bulan yang
lalu, isu tersebut sudah seperti bubuk mesiu yang diberi sedikit percikan api,
yang akan menjalar dengan cepat kemana-mana bahkan juga merembet kemana-mana.
Pihak yang pro berpendapat bahwa jika subsidi dicabut sebagaian maka akan
meringankan beban APBN negara yang mungkin sumber APBN tersebut dari menggali
lubang hutang di tempat-tempat sumber uang. Sedangkan yang kontra berpendapat
bahwa subsidi menjadi beban APBN negara merupakan omong kosong belaka. Melihat
belanja pegawai pemerintah apalagi anggota perlente yang memang di rasional
rakyat jelata ini gak nyata banget. Selain itu profesi lain orang-orang
perlente yang biasa kita panggilnya koruptor. Ulalaaa hal itu menjadi penyakit
yang ibaratnya gak ada obatnya buat mereka semua. Berawal dari tuntutan hidup
mewah yang menjadi keharusan bin kewajiban mereka, korupsi pun oke aja dah asal
bisa memenuhi nafsu mereka buat huru hara.
Pihak yang pro
berpositif thinking bahwa dana subsidi itu dialihkan menjadi dana ‘keadilan
sosial’ bagi rakyat yang mengisi negara ini. Dana itu bukan untuk hal-hal lain
yang bukan untuk penggunaannya. Dana tersebut besar harapannya untuk
menambahkan subsidi bagi pendidikan anak Indonesia yang kelak akan menjadi
pengganti pembuat kebijakan kali ini. Dana tersebut akan digunakan untuk
membantu biaya berobat bagi mereka yang kesulitan untuk sekedar beli obat cap
warung depan rumah. Untuk para petani yang telah mengisi perut kita dari ujung Sabang sampai ke Merauke,
dari umur kita masih 0 tahun sampai sekarang ini. Hal itu tentu akan lebih
bermanfaat ketimbang memberikan subsidi BBM yang notabenenya pemilik kendaraan
cap luar negeri, yang pasti penghasilan mereka lebih dari untuk sekedar makan
tiga kali sehari.
Pihak yang kontra
tidak percaya dengan janji-janji pemerintah yang ibaratnya seperti jualan
kacang goreng. Hanya berlalu saja. Pemerintah tidak banyak pembuktiannya.
Padahal BBM telah berkali-kali dan berlipat-lipat naik harganya sejak jaman
dahulu. Buktinya dana-dana yang dijanjikan untuk hal lain hanya berlalu dengan
elegannya. Pemerintah menaikkan harga BBM otomatis menaikkan tingkat
kesengsaraan rakyat kecil. Oke aja buat mereka yang punya pohon duit, lha yang
gak punya ini?. Kenaikan harga BBM ini tentu akan berakibat melambungnya
harga-harga yang lain baik pangan maupun tingkat industri karena BBM merupakan
salah satu input produksi yang memakan biaya besar. Apalagi jika kenaikannya
disaat-saat ini, maka biaya anak-anak masuk sekolah, puasa dan lebaran pun
mendekat yang otomatis akan lebih tinggi lagi naiknya. Tanpa kenaikan BBM pun,
pada momen-momen ini harga serasa diujung menara Eifel yang susah dijangkau.
Apalagi dengan bantuan langsung tunai yang entah apa nama barunya sekarang, yang
banyak tidak tepat sasaran dan justru akan membuat masyarakat semakin malas.
Well, kalaupun hal
itu benar-benar terjadi(dan udah
terjadi) tugas yang amat penting sekarang adalah mengawasi
kemanakah uang subsidi yang seharusnya untuk BBM. Agar kesalahan-kesalahan yang
telah lalu tidak terulang kembali. Agar subsidi itu benar-benar untuk mereka
yang benar-benar amat membutuhkan, tidak semua orang hidup seperti anda wahai
bapak-bapak yang duduk di parlemen. Mungkin jika anda lihat dibelakang rumah
anda mungkin mereka makan sehari sekali aja udah ih wow banget. Semoga
keputusan-keputusan yang diambil sebelumnya mengucap Bismillah dahulu yang
diiringi dengan niat demi kepentingan rakyat banyak, demi perut dan kehidupan
yang menjanjikan.
Jayalah Negeriku
Jayalah
No comments:
Post a Comment