Friday, October 11, 2013

menuju 2821 mdpl part 2



****
dan perjalanan pun berlanjut

Alhamdulillah, menemukan plang yang menunjukkan perjalanan kita 450 meter lagi menuju puncak, ya Rabbi, rasanya pengen segera di atas sana. Tapi perjalanan 450 meter itu gak semudah dan segampang yang dibayangkan. Penuh halang rintang. Dan kita menemukan plang lagi yang menunjukkan 300 meter lagi menuju puncak. Dan si  ian pengen di depan,dia pengen (seolah-olah) membawa kita ke puncak  dan pak Yunu pun mempersilahkan dengan senang.
Tapi ternyata perjalanan 300 meter itu pun gak semudah yang dibayangkan, masih diiringi rintihan dari ian, tapi kita yang dibelakang tetap menyemangatinya. Jalurnya lebih ‘memanjat’ dari sebelumnya. Jujur aja, aku udah merasakan capek yang sangat, kakinya rasanya pengen di selonjorin, sambil tiduran. Aku udah berencana, sesampainya di atas sana, mau tidur. Bangun siangnya aja hahaa.
Tapi semua yang kurencanakan ternyata gagal total. Aku terlalu terpesona dan terlalu senang ketika berada di atas sana. Tertawa liat si ian yang nangis tersedu-sedu dan larut dalam sujudnya karena udah nyampe puncak gunung for first time. Kita jalan dikit ke point yang lebih kece buat menikmati lukisan alam ini. Di sana ada bangunan kotak yang katanya dulu dipake sebagai stasiun pemancar, tapi dicolongin orang alat-alatnya -_-   . abis liat sekilas cikuray yang masih gelap dan anginnya yang luar biasa kenceg, aku bertayamum buat shalat subuh. Bersama yang lain, shalat subuh ditunaikan, nikmaaat sekali shalat di puncak sana. Setelah shalat kita bersiap menyambut datangnya mentari. Heu, karena angin yang kenceng, bikin udara makin dingin, mata pun jadi kurang bebas bergerak, karena banyaknya debu yang berterbangan.
Mataharipun dengan anggunnya mulai merayap naik, menemui sang langit yang telah semalaman menantinya. Dan juga kita yang juga tak sabar melihat mentari menemui kita.tetapi dengan setianya Lautan awan menemani kita yang terdiam dalam penantian.
Lamaa kali kami menunggunya, anginpun sepertinya mengusir kita dari tempat penantian kita. Kenceeeng banget anginnya, whuuuusss
Debu-debunya masuk menyerang kita, dan kita pun terpukul mundur dari sana. Sambil menunggu matahari benar-benar bersinar, kita makan dulu. Perut yang krucuk-krucuk dan juga tangan yang mengkerut saking dinginnya. Makan bekal lontong dan juga perkedel ala Pamalayan, subhanallah nikmatnya. Tapi gak semua menikmati makananmu itu, ada yang tidur dan menggigil kedinginan.
Karena aku udah selesai makan, akupun bersama seorang teman pergi ke tempat penantian tadi. Udara sedikit lebih hangat daripada yang tadi. Dan kali ini, aku lebih terpukau. Angin yang tadinya udah berhembus, udah berkurang kecepatannya. Takjub dan terpana melihat mentari yang indah, sang surya itu seolah bangga karena dia telah menguasai langit sampai dia sampai kembali ke peraduannya. Selain itu, negeri awan seolah mengajakku juga buat mampir ke kerajaan mereka. Dan tau kah kalian, di pucak sini, puncak gunung cikuray, kalian akan benar-benar di atas awan. Awan itu berarak mengikutimu *nyanyii guweeeh* dan kalian akan melihat puncak yang lain serta rangkaian puncak yang berantai dari mengelilingi Swiss Van Java ini.
selamat pagi Indonesiaaaaaaa

Dari puncak sini, Pak yunu menunjukkanku jalan Desa Pamalayan *ahh, apa kabar kah desa itu sekarang?* di sana terangkai juga kebun-kebun petani, rumah-rumah penduduk yang tampak kecil sekali, apalagi yang menghuninya?? Maha Besar Engkau Ya Allah, hanya itu yang terucap dari mulut, rasa syukur yang masih bisa menikmati lukisanMu, menikmati secuil keindahan ciptaanMu, menikmati akan betapa kecilnya diri ini.
Aku dan  tim X centimeter di depan mata, kalian luar biasaa, semoga kita bisa membolang lagi bersama-sama :)
ini nih salah satu track yang kami lewati


ini nih full team :)

on 2821 mdpl

   
for my beloved country, Indonesia