Wednesday, August 13, 2014

sebuah cerita dari danau lumpur di Sidoarjo

"kamu asalnya dari mana dhin?"
"Sidoarjo"
"yang lumpur Lapindo itu? rumahmu kena gak?"
dengan poker face akupun menjawab "Alhamdulillah gak kok"


itu pertanyaan yang selalu dan selalu ketika teman menanyakan asalku
Yupp, Sidoarjo selama 8 tahun terakhir ini menjadi sangat terkenal, bukan karena petisnya ataupun bandeng prestonya ataupun lontong kupangnya tetapi karena Lumpur Lapindonya.
hmm, for your information guys, selama ini aku belum pernah melihat secara langsung tuh danau dadakan itu,but akhirnya pada hari Senin, 4 Agustus 2014 kakak aku mengajak ke sana. aku sih ayo ayo aja.
dan berangkatlah kita ke sana, perjalanan dari rumah ku ke pusat semburan itu kurang lebih 45 menit aja.
pas udah nyampe sana, gak percaya aja kalo di balik "bukit" itu ada lautan lumpur. Sebelum sampai ke atas 'bukit itu' kita dihadang oleh seorang bapak yang meminta uang masuk. Awalnya kaget juga, rasanya seperti di palak, beuuh tapi ya mudah-mudah an bapak bapak itu merupakan korban dari lumpur lapindo, biar uangnya bener-bener termanfaatkan dengan baik #tsaah

ini nih pemandangan yang akan menyambut kalian


nah, begitu sampai di atas tanggul, kami melihat aliran lumpur yang menuju ke kolam penampungan yang berada di sebelah tanggul, lumpurnya hitam dan bau busuk hahaa. dan yang di tengah itu lumpur yang udah mengering, mungkin udah saking lamanya kali yaa.

bahkan bangunan itu tinggal rangka atapnya yg melambai-lambai
ini kolam penampungan yg menjadi muara aliran lumpur itu
 
untuk berkeliling ke wisata lumpur ini, kudu naik motor ataupun sepeda, mobil tidak bisa naik ke tanggul yang tingginya 5 meter lebih itu. kalaupun gak ada motor, bisa naik ojek yang entah berapa harganya. yang uniknya di spot spot tertentu ada pangkalan ojek dan penjual DVD yang menceritakan tentang awal awal semburan. dari pinggiran kolam penampungan itu, bisa iat kepulan asap dari pusat semburan lumpur itu.
ini nih spot pengakalan ojek+warung+penjual DVD :D
dari kolam penampungan itu kami meneruskan penelusuran ke pusat semburan #tsaah. Angin kenceng plus jalan yang labil bikin dan juga di tepi lembur bikin nyetir kudu ati2. oh iyak jangan lupa pake masker yak, biar baunya gak bikin mabok :)

dan di tengah perjalanan, kita melihat 'something' dari kejauhan
ini dia 'something'nya
dan ternyata itu adalah sekumpulan patung yang sedang 'protes' . Patung itu dibuat oleh seorang seniman yang prihatin atas penderitaan korban lumpur lapindo yang belum mendapat ganti rugi atas lahan mereka yang udah dan terancam kena luberan lumpur. patung-patung tersebut membawa barang-barang mewakili 'harta' mereka yang hilang seperti sekolah, masjid, pekerjaan, rumah dan lain sebagainya. Patung itu awalnya tidak terendam seperti itu, tapi ternyata lumpur meluber lagi dan menodai patung-patun itu. Konon katanya, patung-patung itu dibuat untuk memperingati 8 tahun semburan lumpur pada 29 Mei lalu. 


dan perjalanan pun masih berlanjut menuju pusat semburan lumpur, kitapun memutar jauuuh, masih dibelai angin kencang yang sejuk kita pun meluncur ke pusat sanah. Tapi ditengah jalan, kita dihadapkan dengan bapak-bapak lagi
'mbak, tiket masuknya"
"lha, kita udah bayar pak di sana" (sambil nunjuk-nunjuk)
"ini udah beda desa mbak, jadi ya bayar lagi"
ngek ngok

dan perjalanan pun berakhir di sebuah ujung yang tidak mengantarkan kita ke pusat semburan, karena jalannya terputus aliran lumpur. aliran lumpur ini lebih pekat dari pada yang di awal naik ke 'bukitnya'
hanya bisa melihat asap yang mengepul dari pusatnya sana

itu pipa-pipa sisa pabrik sebelumnya

perjalanan pun  berakhir di ujung sana
memutar balik seraya berdoa agar segera selesai semua ini
karena bayangkan udah kayak apa tanah di bawah Sidoarjo ini, isinya sudah keluar semua
semoga semua ini berlalu dan tersimpan menjadi kenangan :)


Martika Andhini
di Pondok Assalamah, Dramaga, Bogor
14.53
13 Agustus 2014

No comments:

Post a Comment